Sabtu, 11 Februari 2012









Jumat, 10 Februari 2012


TANGGAL 

EVENT
LOKASI
15

Januari

Grebeg Sudiro 

Pasar Gedhe 

30 - 5

Februari

Sekaten  

Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta

5

Februari

Grebek Mulud

Keraton Kasunanan Surakarta 

17 - 21

Februari

Festival Kethoprak

Gedung Kesenian Balekambang 

18

Februari

Solo Karnaval

Jalan Slamet Riyadi 

19

Maret

Gunungan Charity Boat Race

Bengawan Solo

22

Maret

Mahesa Lawung

Keraton Kasunanan Surakarta 

18 - 22

April

Pesona Balekambang

Taman Balekambang

29

April

Solo Menari 

Jalan Slamet Riyadi 

11 - 12

Mei

Mangkunegaran Performing Art

Pura Mangkunegaran  

18 - 20
Mei
Festival Dolanan Bocah
Kawasan Gladak

22 - 24


Mei

Asia Pacific Historian Conference
Solo
8-10

Juni

Kemah Budaya

Lapangan Kota Barat

13 - 14

Juni

Keraton Art Festival
Keraton Kasunanan Surakarta 

15

Juni

 Tingalan Jumenengan Dalem ke-7 SISKS XIII

Keraton Kasunanan Surakarta 

16 - 20

Juni

Solo Kampong Art

Solo

19

Juni

Parade Hadrah

Jalan Slamet Riyadi
24-26

Juni

Kreasso

Kawasan Mangkunegaran

30

Juni

Solo Batik Carnival

Jalan Slamet Riyadi

4 - 8

 Juli
SIEM

Taman Balekambang

13 - 16

Juli

Solo Batik Fashion

Komplek Balikota

19 - 22

Juli

Pentas Wayang Orang Gabungan

Gedung Wayang Orang Sriwedari

22 - 23

Juli

Festival Dalang Bocah

Joglo Sriwedar

22 - 23
Juli
Wayang Bocah
Gedung Wayang Orang Sriwedari
8

Agustus

Malem Selikuran 

Keraton Kasunanan – Taman Sriwedari 

19

Agustus

Grebeg Poso

Kraton Kasunanan

19-26

Agustus

Bakdan ing Balekambang 

Taman Balekambang 

22 - 29

Agustus

Pekan Syawalan Jurug

Taman Satwa Taru Jurug

6 - 9

September

Federation Asian Cultural Promotion Conference

Solo

29 – 30

September

Solo Keroncong Festival 

Mangkunegaran

8

September

Grand Final Pemilihan Putra - Putri Solo

Ngarsopuro

14 - 15

September

Solo Keroncong Festival

Kawasan Mangkunegaran

21- 22

September

Solo City Jazz

Ngarsopuro / Sriwedari

28 - 30

September

SIPA

Solo

11 - 14

Oktober

Solo Investation Tourism and Trade Expo

Solo

13 - 14

Oktober

Solo Internasional Tea Festival

-

14

Oktober

Grebeg Pangan

Purwosari - Sriwedari

14 - 16

Oktober

Solo Culinary Festival

Solo

25 - 28

Oktober

Pasar Seni Balekambang

Taman Balekambang

26

Oktober

Grebeg Besar

Keraton Kasunanan Surakarta 

9 - 11

November

Javanesse Theatrical

Solo

11

November

Kirab Apem Sewu

Kampung Sewu

11

November

Bengawan Solo Gethek Festival

Bengawan Solo

26 – 27

November

Kirab Malam 1 Sura 

Keraton Kasunanan – Pura Mangkunegaran 

25

November

Wiyosan Jumenengan SP KGPAA Mankoe Nagoro IX 
Pura Mangkunegaran

31

Desember

Pesta Budaya dan Kembang Api Malam Tahun Baru

Solo

Senin, 06 Februari 2012



































Kamis, 26 Januari 2012

 “ Ayah, berapa jarak bumi ke bulan?”, tanyanya di lain waktu. Ku ingat-ingat pelajaran SMP-ku dulu. Akhirnya dengan ragu-ragu ku jawab 380.000 Km. ia hanya mengiyakan. Matanya menyimpan sesuatu. “ Yah, kira-kira berapa kali jarak Sophie ke sekolah ya?” lanjutnya serius. Ku kira-kira lagi, sekitar 76.000 kali jarak sekolah kataku. Matanya melotot. Banyak sekali gumamnya. Tangannya di keluarkan dari saku, jarinya menggenggam 4 helai uang kertas 5.000 rupiah. “ Berarti uang Sophie kurang dong Yah?”, katanya sedih. Ia berlalu. Matanya senduh. Malam itu ia memandang bulan begitu lama


 Pokoknya Sophie ingin ke bulan !!” pekiknya ketika itu. Aku tak tahu bagaimana membujuknya. Sulit menjelaskan bagaimana jauhnya bulan pada anak 10 tahun. Semakin hari keinginannya semakin kuat. Bujukan dengan boneka baru, es creams, hanya bertahan 1 hari, selanjutnya ia akan kembali minta diantar ke bulan.

Jika malam tiba tak henti-hentinya ia memandang bulan. Matanya tak berkedip, senyumnya sesekali mengembang. Ia punya khayalan sendiri tentang bulan. Ia harus kubujuk sesekali agar mau tidur, karena esok ia harus pergi kesekolah. Itupun dengan syarat jendela kamarnya dibuka agar ia dapat memandang bulan ketika bangun di malam hari. Aku hanya menyiapkan selimjut ekstra agar ia tidak terserang flu jika dihembus angin malam.

“ Ayah, ada ngga orang yang pernah ke bulan?” katanya suatu ketika. Ku jelaskan tentang Neil Amstrong. Matanya tak berkedip, mata yang menyimpan gelora tentang bulan. Malam itu ia tidur dengan nyenyaknya, senyumnya mengembang. Malam berikutnya ku ceritakan dongeng tentang nenek penjahit bulan. Matanya tak berkedip. Akhirnya setiap malam kusiapkan dongeng-dongeng tentang bulan. Hingga akhirnya aku kehabisan cerita tentang bulan. Teman-temanku sudah ku pinta mencari  dongeng tentang bulan, namun rata-rata ceritanya sama. Semuanya menyerah. Aku tidak. Dengan imajinasiku aku mengarang sendiri cerita tentang bulan. Matanya tak berkedip. Selesailah tugasku setiap malam. Namun tidak semudah itu. Dongeng ciptaanku mulai tertukar-tukar dengan yang pernah kuceritakan pada sophie, ia mulai kesal. Lama-lama ia sadar ceritaku banyak mengulang yang sudah-sudah. Ia mulai kesal. Sophie tidak mau lagi mendengar lagi dongeng-dongengku.

“ Ayah, berapa jarak bumi ke bulan?”, tanyanya di lain waktu. Ku ingat-ingat pelajaran SMP-ku dulu. Akhirnya dengan ragu-ragu ku jawab 380.000 Km. ia hanya mengiyakan. Matanya menyimpan sesuatu. 
“ Yah, kira-kira berapa kali jarak Sophie ke sekolah ya?” lanjutnya serius. Ku kira-kira lagi, sekitar 76.000 kali jarak sekolah kataku. Matanya melotot. Banyak sekali gumamnya. Tangannya di keluarkan dari saku, jarinya menggenggam 4 helai uang kertas 5.000 rupiah.
“ Berarti uang Sophie kurang dong Yah?”, katanya sedih. Ia berlalu. Matanya senduh. Malam itu ia memandang bulan begitu lama. Ia sulit kubujuk untuk tidur. Ajakanku untuk pergi ke pantai di hari minggu tidak dihiraukannya. Yang ku tau ia begitu senang dengan pantai. Aku ingat akan sesuatu. Ku katakan padanya bahwa aku akan belanja kebutuhan dapur, ia boleh ikut membawa belanjaan, sebagai gantinya aku akan membayar sejumlah uang. Ia tertarik, matanya berbinar. Ia sempat berkata akan membantu semua pekerjaanku dengan syarat ia menerima pembayaran. Aku setuju. Ia tertidur dengan senyum.

Sophie jadi begitu rajin dan bersemangat, uang yang ia dapat dikumpulkan di dalam kaleng biscuit. Setiap malam ia menghitung jumlah tabungannya. Ia mencorat-coret kertas. Menghitung berapa uang yang harus ia kumpulkan lagi. Setelah itu ia akan tersenyum memandang bulan. Tidurnya jadi nyenyak. Aku tidak direpotkan lagi dengan pandangannya ke bulan. Sesekali ku tambahkan uangku ke dalam kaleng tersebut tanpa sepengetahuannya. Esok malamnya ia akan berteriak gembira dan berlari ke arahku. “ Ayah, ayah yang nambah uang tabungan Sophie kan?, makasih ya Yah, Sophie sayang ayah”, katanya sambil memelukku. Aku begitu bahagia.

Namun lama-kelamaan aku jadi khawatir, aku takut dengan kesungguhannya. Setiap ku lihat ia menghitung uang di kaleng, aku ngeri dengan senyumnya yang menyimpan sesuatu. Aku sudah menebak ia sedang mengumpulkan ongkos ke bulan. Tapi aku tak pernah berpikir ia akan mewujudkannya. Ku pikir itu hanya mimpi anak kecil yang hanya sesaat. Namun Sophie tidak begitu. Ia begitu semangat mewujudkan mimpi. Aku sangat takut jika ia tidak dapat mewujudkan mimpi itu. Aku takut akumulasi semangatnya berubah menjadi kekecewaan yang dalam. Sebelum terlambat aku harus bicara padanya.

“ Sophie.., untuk ke bulan kita perlu pesawat ruang angkasa”, kataku membuka pembicaraan. Matanya tak berkedip. Ini cerita tentang bulan pikirnya. Ku jelaskan tentang astronot, oksigen, baju luar angkasa, pesawat ulangalik, tempat peluncuran, dan Indonesia sendiri. Ku katakan padanya saat ini Negara kita belum bisa menerbangkan orang ke bulan. Matanya tajam menatapku, mulutnya cemberut, ia tidak berkata-kata, air matanya menetes, senggukannya mengiris sembiluku, ia berlari ke kamar, menutup pintunya, dan lamat ku dengar tanggisan tertahannya. Kami terbiasa tidak saling menunjukan air mata. Mataku juga mulai panas.. Aku tak ingin membuatnya bersedih. Tidak lagi. 

Malam ku masuki kamarnya. Badannya tengkurap menghadap dinding, sophie memeluk kaleng tabungannya. Bantalnya masih basah dengan air mata. Mukanya menyimpan kecewa yang sangat. Ku naikan selimut. Ku kecup keningnya.

Pukul  06.30, kenapa sophie belum bangun. Tumben. Mungkin ia lelah setelah menangis semalam. Namun ketika ku bangunkan aku baru sadar , badannya panas. Ku raba dahinya. Sophie.. sophie panggilku, ia menggumam memanggil namaku, “Yah, dingin”. Badannya menggigil. Sophie demam. Aku panic, ku telpon Lisna , dokter muda tetanggaku. Untung ia belum berangkat. Ia menyanggupi untuk datang. Aku sedikit lega.

“ Ia hanya demam biasa, dengan istirahat sebentar, paling 2 hari sudah sembuh”. Ucap Lisna menenangkan aku. Bapaknya juga perlu istirahat sarannya, ketika kami bertatapan, mataku tampak lelah katanya. Sebelum pergi Lisna memberiku obat untuk sophie minum. Cuma vitamin katanya. Tak lama ia pamit. Tinggal aku dan sophie. Ku putuskan aku tidak masuk kantor hari ini. Siapa yang menjaga sophie kalau ku tinggal. 

Sambil menunggu Sophie tidur. Ku bereskan kertas-kertas di kamar sophie. Penuh coretan angka-angka, aku yakin perhitungan ongkos ke bulannya. Ku susun dan kuletakan di meja belajarnya. Tampak beberapa majalah terbuka, gambar-gambar penari tampak menghiasi lembaran yang terbuka. Oh mungkin Sophie ingin meniru gaya busana tari untuk ia pakai di sanggar tempat ia latihan pikirku. Sophie memang sering menari di bawah sinar bulan. Itu dulu, kini ia lebih suka memandang bulan. Entah mengapa kini ia telah jarang menari di sanggar. Majalah ini mungkin mengobati kerinduannya akan tari. Ehm.. penari ,aku terkenang sesaat, ia memang mewarisi gen ibunya.

Malam itu ku suapi Sophie makan, untunglah ia tidak rewel. Jendela kamarnya sengaja ku buka, malam itu bulan hampir purnama. Ia makan lahap, mungkin karena dari pagi tadi ia hanya makan sedikit. Ku raba dahinya, panasnya sudah turun. Aku senang.
“Sophie, kalau ayah boleh tau, kenapa sophie ingin ke bulan” tanyaku membuka pembicaraan sambil menyuapinya makan.
“ Sophie ingin nari Yah..” jawabnya
“ Nari ? masa nari di bulan?” tanyaku heran
“ Iya, soalnyakan bulan keliatan dimana-mana”, jawabnya lagi
“ Terus kalau keliatan dimana-mana emang kenapa”, ku masukan makanan ke mulutnya.
Ia memerlukan waktu sebentar untuk menelan.
“ Jadi kalau Sophie nari di bulan, Ibu pasti lihat, Yah” jawabnya semangat.
Dug.. jantungku hampir meledak
“ Memang kenapa kalau Ibu lihat”, ucapku hati-hati 
“ Dulu ibu sering marah kalau Sophie gak mau nari, jadi ibu pergi, kalau ibu liat sophie udah bisa menari pasti ibu pulang” , katanya memberi alasan. Hatiku tambah tak karuan, bagaimana aku menjelaskan ini batinku. Mata Sophie berbinar dengan segala rencananya. Sakitnya mendadak sembuh.  Ganti aku yang meradang. 
Jihan bagaimana aku menjelaskan pada Sophie ?