Kamis, 26 Januari 2012

 “ Ayah, berapa jarak bumi ke bulan?”, tanyanya di lain waktu. Ku ingat-ingat pelajaran SMP-ku dulu. Akhirnya dengan ragu-ragu ku jawab 380.000 Km. ia hanya mengiyakan. Matanya menyimpan sesuatu. “ Yah, kira-kira berapa kali jarak Sophie ke sekolah ya?” lanjutnya serius. Ku kira-kira lagi, sekitar 76.000 kali jarak sekolah kataku. Matanya melotot. Banyak sekali gumamnya. Tangannya di keluarkan dari saku, jarinya menggenggam 4 helai uang kertas 5.000 rupiah. “ Berarti uang Sophie kurang dong Yah?”, katanya sedih. Ia berlalu. Matanya senduh. Malam itu ia memandang bulan begitu lama


 Pokoknya Sophie ingin ke bulan !!” pekiknya ketika itu. Aku tak tahu bagaimana membujuknya. Sulit menjelaskan bagaimana jauhnya bulan pada anak 10 tahun. Semakin hari keinginannya semakin kuat. Bujukan dengan boneka baru, es creams, hanya bertahan 1 hari, selanjutnya ia akan kembali minta diantar ke bulan.

Jika malam tiba tak henti-hentinya ia memandang bulan. Matanya tak berkedip, senyumnya sesekali mengembang. Ia punya khayalan sendiri tentang bulan. Ia harus kubujuk sesekali agar mau tidur, karena esok ia harus pergi kesekolah. Itupun dengan syarat jendela kamarnya dibuka agar ia dapat memandang bulan ketika bangun di malam hari. Aku hanya menyiapkan selimjut ekstra agar ia tidak terserang flu jika dihembus angin malam.

“ Ayah, ada ngga orang yang pernah ke bulan?” katanya suatu ketika. Ku jelaskan tentang Neil Amstrong. Matanya tak berkedip, mata yang menyimpan gelora tentang bulan. Malam itu ia tidur dengan nyenyaknya, senyumnya mengembang. Malam berikutnya ku ceritakan dongeng tentang nenek penjahit bulan. Matanya tak berkedip. Akhirnya setiap malam kusiapkan dongeng-dongeng tentang bulan. Hingga akhirnya aku kehabisan cerita tentang bulan. Teman-temanku sudah ku pinta mencari  dongeng tentang bulan, namun rata-rata ceritanya sama. Semuanya menyerah. Aku tidak. Dengan imajinasiku aku mengarang sendiri cerita tentang bulan. Matanya tak berkedip. Selesailah tugasku setiap malam. Namun tidak semudah itu. Dongeng ciptaanku mulai tertukar-tukar dengan yang pernah kuceritakan pada sophie, ia mulai kesal. Lama-lama ia sadar ceritaku banyak mengulang yang sudah-sudah. Ia mulai kesal. Sophie tidak mau lagi mendengar lagi dongeng-dongengku.

“ Ayah, berapa jarak bumi ke bulan?”, tanyanya di lain waktu. Ku ingat-ingat pelajaran SMP-ku dulu. Akhirnya dengan ragu-ragu ku jawab 380.000 Km. ia hanya mengiyakan. Matanya menyimpan sesuatu. 
“ Yah, kira-kira berapa kali jarak Sophie ke sekolah ya?” lanjutnya serius. Ku kira-kira lagi, sekitar 76.000 kali jarak sekolah kataku. Matanya melotot. Banyak sekali gumamnya. Tangannya di keluarkan dari saku, jarinya menggenggam 4 helai uang kertas 5.000 rupiah.
“ Berarti uang Sophie kurang dong Yah?”, katanya sedih. Ia berlalu. Matanya senduh. Malam itu ia memandang bulan begitu lama. Ia sulit kubujuk untuk tidur. Ajakanku untuk pergi ke pantai di hari minggu tidak dihiraukannya. Yang ku tau ia begitu senang dengan pantai. Aku ingat akan sesuatu. Ku katakan padanya bahwa aku akan belanja kebutuhan dapur, ia boleh ikut membawa belanjaan, sebagai gantinya aku akan membayar sejumlah uang. Ia tertarik, matanya berbinar. Ia sempat berkata akan membantu semua pekerjaanku dengan syarat ia menerima pembayaran. Aku setuju. Ia tertidur dengan senyum.

Sophie jadi begitu rajin dan bersemangat, uang yang ia dapat dikumpulkan di dalam kaleng biscuit. Setiap malam ia menghitung jumlah tabungannya. Ia mencorat-coret kertas. Menghitung berapa uang yang harus ia kumpulkan lagi. Setelah itu ia akan tersenyum memandang bulan. Tidurnya jadi nyenyak. Aku tidak direpotkan lagi dengan pandangannya ke bulan. Sesekali ku tambahkan uangku ke dalam kaleng tersebut tanpa sepengetahuannya. Esok malamnya ia akan berteriak gembira dan berlari ke arahku. “ Ayah, ayah yang nambah uang tabungan Sophie kan?, makasih ya Yah, Sophie sayang ayah”, katanya sambil memelukku. Aku begitu bahagia.

Namun lama-kelamaan aku jadi khawatir, aku takut dengan kesungguhannya. Setiap ku lihat ia menghitung uang di kaleng, aku ngeri dengan senyumnya yang menyimpan sesuatu. Aku sudah menebak ia sedang mengumpulkan ongkos ke bulan. Tapi aku tak pernah berpikir ia akan mewujudkannya. Ku pikir itu hanya mimpi anak kecil yang hanya sesaat. Namun Sophie tidak begitu. Ia begitu semangat mewujudkan mimpi. Aku sangat takut jika ia tidak dapat mewujudkan mimpi itu. Aku takut akumulasi semangatnya berubah menjadi kekecewaan yang dalam. Sebelum terlambat aku harus bicara padanya.

“ Sophie.., untuk ke bulan kita perlu pesawat ruang angkasa”, kataku membuka pembicaraan. Matanya tak berkedip. Ini cerita tentang bulan pikirnya. Ku jelaskan tentang astronot, oksigen, baju luar angkasa, pesawat ulangalik, tempat peluncuran, dan Indonesia sendiri. Ku katakan padanya saat ini Negara kita belum bisa menerbangkan orang ke bulan. Matanya tajam menatapku, mulutnya cemberut, ia tidak berkata-kata, air matanya menetes, senggukannya mengiris sembiluku, ia berlari ke kamar, menutup pintunya, dan lamat ku dengar tanggisan tertahannya. Kami terbiasa tidak saling menunjukan air mata. Mataku juga mulai panas.. Aku tak ingin membuatnya bersedih. Tidak lagi. 

Malam ku masuki kamarnya. Badannya tengkurap menghadap dinding, sophie memeluk kaleng tabungannya. Bantalnya masih basah dengan air mata. Mukanya menyimpan kecewa yang sangat. Ku naikan selimut. Ku kecup keningnya.

Pukul  06.30, kenapa sophie belum bangun. Tumben. Mungkin ia lelah setelah menangis semalam. Namun ketika ku bangunkan aku baru sadar , badannya panas. Ku raba dahinya. Sophie.. sophie panggilku, ia menggumam memanggil namaku, “Yah, dingin”. Badannya menggigil. Sophie demam. Aku panic, ku telpon Lisna , dokter muda tetanggaku. Untung ia belum berangkat. Ia menyanggupi untuk datang. Aku sedikit lega.

“ Ia hanya demam biasa, dengan istirahat sebentar, paling 2 hari sudah sembuh”. Ucap Lisna menenangkan aku. Bapaknya juga perlu istirahat sarannya, ketika kami bertatapan, mataku tampak lelah katanya. Sebelum pergi Lisna memberiku obat untuk sophie minum. Cuma vitamin katanya. Tak lama ia pamit. Tinggal aku dan sophie. Ku putuskan aku tidak masuk kantor hari ini. Siapa yang menjaga sophie kalau ku tinggal. 

Sambil menunggu Sophie tidur. Ku bereskan kertas-kertas di kamar sophie. Penuh coretan angka-angka, aku yakin perhitungan ongkos ke bulannya. Ku susun dan kuletakan di meja belajarnya. Tampak beberapa majalah terbuka, gambar-gambar penari tampak menghiasi lembaran yang terbuka. Oh mungkin Sophie ingin meniru gaya busana tari untuk ia pakai di sanggar tempat ia latihan pikirku. Sophie memang sering menari di bawah sinar bulan. Itu dulu, kini ia lebih suka memandang bulan. Entah mengapa kini ia telah jarang menari di sanggar. Majalah ini mungkin mengobati kerinduannya akan tari. Ehm.. penari ,aku terkenang sesaat, ia memang mewarisi gen ibunya.

Malam itu ku suapi Sophie makan, untunglah ia tidak rewel. Jendela kamarnya sengaja ku buka, malam itu bulan hampir purnama. Ia makan lahap, mungkin karena dari pagi tadi ia hanya makan sedikit. Ku raba dahinya, panasnya sudah turun. Aku senang.
“Sophie, kalau ayah boleh tau, kenapa sophie ingin ke bulan” tanyaku membuka pembicaraan sambil menyuapinya makan.
“ Sophie ingin nari Yah..” jawabnya
“ Nari ? masa nari di bulan?” tanyaku heran
“ Iya, soalnyakan bulan keliatan dimana-mana”, jawabnya lagi
“ Terus kalau keliatan dimana-mana emang kenapa”, ku masukan makanan ke mulutnya.
Ia memerlukan waktu sebentar untuk menelan.
“ Jadi kalau Sophie nari di bulan, Ibu pasti lihat, Yah” jawabnya semangat.
Dug.. jantungku hampir meledak
“ Memang kenapa kalau Ibu lihat”, ucapku hati-hati 
“ Dulu ibu sering marah kalau Sophie gak mau nari, jadi ibu pergi, kalau ibu liat sophie udah bisa menari pasti ibu pulang” , katanya memberi alasan. Hatiku tambah tak karuan, bagaimana aku menjelaskan ini batinku. Mata Sophie berbinar dengan segala rencananya. Sakitnya mendadak sembuh.  Ganti aku yang meradang. 
Jihan bagaimana aku menjelaskan pada Sophie ?

Ku nikmati lagi kopi ini,
masih hambar.., bahkan sudah ku bantu dengan sebatang rokok, tapi rasanya tak berubah. Aku juga yang salah, bagaimana tidak, rokokku pun sebenarnya terasa hambar. Hambar dengan hambar berarti hambar kuadrat. Kalau kulihat kebelakang memang satu minggu belakangan ini hidupku memang terasa hambar. Kalau begitu bisa hambar pangkat sepuluh.
“ Oke.. Tres, kau memang sahabatku.., saatnya aku membalas kebaikanmu selama ini”
Aku tak mengerti apa yang dimaksud dengan Lian
“ Setelah sekian lama kita berteman, aku baru sadar, aku belum melakukan apa-apa untukmu”
Aku merasa pembicaraan ini mulai tidak nyaman untukku, apa yang  kau mau Ian… aku masih tak mengerti
“ Aku sudah memutuskan aku akan melakukan sesuatu untukmu.. tapi aku tak tau apa yang harus aku lakukan”, rokok Lian makin terasa berat, berarti ia pun tak  nyaman dengan pembicaraan ini.
 “ setelah ku timbang-timbang, lebih baik kau sendiri yang minta apa yang harus ku lakukan “, lanjutnya
Aku terdiam sesaat, tenggorokan ku kering beberapa detik
“ Tapi aku tak butuh apa-apa Yan..”, kataku , “ Dan aku juga tak berharap apa-apa dari persahabatan kita”, lanjutku lagi
“ Ya aku juga pikir begitu… aku juga tak berpikir persahabatan kita dilandasi pemberian dan penerimaan, aku hanya merasa aku belum pernah melakukan sesuatu untukmu”
“ Kau tak perlu melakukan sesuatu untukku Yan.., aku tak pernah meminta sesuatu dari yang ku lakukan “
“ Aku percaya itu Tres.. tapi setelah selama ini, sudah sepantasnya kau memberi aku kesempatan berbuat yang sama untukmu”
“ Tapi Yan…”
“ Jangan egoist Tres.. aku juga ingin berharga didepanmu”
Lama kami terdiam. Obrolan ini tampak aneh. Seaneh permintaan Lian.
“ Demi persahabatan kita Tres, beri aku kesempatan berbuat sesuatu untukmu”
Lian meminta dengan harap, aku terdiam dalam gundah. Obrolan ini anti klimaks.
“ oke.. “ ujarku mengalah, “ tapi jangan paksa aku mengatakannya sekarang, beri aku waktu…, “ pinta ku
“ o..ke”, sambut Lian senang , “ berapa hari ?”, tanyanya antusias
“ 1 minggu.., berarti rabu depan kita ketemu di tempat biasa” ucapku ragu sambil menentukan tempat pertemuan, maksudku Cafebook, tempat kami biasa berdiskusi sambil menikmati secangkir coklat.
Kami bersalaman dengan perasaan hati yang berbeda.

###

Itulah awal yang membuat kopi dan rokokku terasa hambar. Pagi hilang cerianya, siang berlalu tak berbekas, malam menjadi monster yang menerkam gelap hingga aku tersadar hari telah pagi lagi. Begitu seterusnya, hingga tak terasa 1 minggu hampir berlalu. Ini adalah hari terakhir, malam ini aku akan mengatakan permintaanku pada Lian. Sialnya sampai detik ini aku belum menemukan apa yang ku mau.

Ku coba mengingat-ingat apa yang kubutuhkan dalam hidupku. Aku pernah ingin berkeliling dunia, jadi aku minta saja tiket pesawat ke seluruh kota-kota  besar di dunia. Lian pasti tak keberatan, toh proyek yang kami dapat kemarin nilainya triliunan rupiah. Tiket pesawat keliling dunia tidak akan sampai sepuluh persennya. Wajar bagi sahabat yang belum pernah melakukan apa-apa. Atau aku minta saja buatkan kolam seluas Senayan Jakarta yang diselesaikan dalam satu malam. Ha ha  ha.. memangnya aku Roro Jonggrang. Aku senyum dan tertawa dengan ide tersebut. Mungkin aku minta wanita Uzbekisthan saja, sepuluh kalau perlu. Tapi setelah ku timbang-timbang istriku mau dikemanakan. Ah… pusing aku memikirkan permintaanku sendiri.

Letih memikirkan permintaanku, aku ganti memikirkan jalannya persahabatanku dengan Lian. Siapa tau ada hal yang ku ingin dari dirinya namun tak sempat terkatakan.

Lian rekan kuliahku, kami beda jurusan. Lian ekonomi dan aku social. Kami berteman karena punya hobi yang sama, Coklat panas, rokok, dan buku. Kami selalu bercita-cita akan membuat café yang memadukan ketiga hal tersebut. Kami sampai bermalam-malam membicarakan rencana tersebut. Tak perlu menunggu lama. Tamat kuliah, cita-cita tersebut langsung kami  wujudkan. Aku bertanggung jawab dengan buku, dan Lian dengan coklat, aku buat perpustakaan, Lian buat café. Rokok kami hisap bersama, setelah lelah dengan buku dan coklat. Peresmian cafebook kami dihadiri teman-teman dekat, jauh dari perkiraan bahwa ini adalah cikal bakal perusahaan raksasa di negeri ini. Otak ekonomi Lian memang brilliant, hanya dalam jangka waktu 3 bulan cafebook sudah menjadi tempat nongkrong ‘kaum pemikir’, kaum yang rela menghabiskan waktu berjam-jam dengan buku dan diskusi. Masuk bulan ke empat, coklat menjadi minuman paling trend di kota Bengkulu. Tapi Lian tidak mudah puas, ia berhari-hari tidak tidur memikirkan bagaimana menaikan laba keuntungan. Aku berusaha mendukung sepenuhnya. Caffebook semakin ramai, sehingga kami harus membuka beberapa cabang. Permintaan dari beberapa daerah yang ingin memfranchise caffebook membuat usaha kami menjadi waralaba yang paling menjanjikan, itu versi majalah terbitan ibukota. 

“ Tres… gimana kalau kita beli saja penerbit-penerbit kecil, tentu keuntungannya akan berlipat”
“ Tapi dana kita terbatas, Yan “, ujarku khawatir
“ Tenang , kita investasikan saja seluruh dana yang ada, toh kita sudah mempunyai tempat melempar buku yang kita terbitkan, caffebook adalah tempat kita mendistribusikan buku”, jawab Lian yakin
Perhitungan Lian tak pernah meleset, penerbit-penerbit kecil yang kami beli menjelma menjadi penerbit raksasa. Caffebook ditempat-tempat tertentu mengalami perluasan. Lian langsung menangkap peluang bisnis tersebut. Tak lama kemudian Mal-Caffebook kami sudah berdiri. 
“ Tres.. bagaimana kalau kita  beli saja perusahaan coklat Vocvol “
Kemudian
“Sepertinya menguntungkan kalau kita beli produk petani tembakau dan kita buat saja perusahaan rokok sendiri, gimana menurutmu Tres ?”
“ Tres .. gimana kalau kita ..” lalu
“ Tres ..gimana kalau kita..”
Lian sangat menghormati keberadaanku, semua rencananya selalu meminta pendapatku. Aku selalu mendukungnya. Selalu. Sungguh !.

Hanya dalam waktu 5 tahun caffebook.brothers.lct telah menjelma menjadi perusahaan nasional. Jaringannya telah menjalar ke segala bidang. Dengan sedikit-sedikit pengetahuan politikku, kami juga membiayai calon-calon kepala daerah. Tentu yang mempunyai peluang menang. Hampir seluruhnya menang. Kamipun berhamburan proyek-proyek pembangunan dari Bupati dan Gubernur yang kami sponsori. Dengan begitu kami juga telah masuk dunia politik. Bahkan terakhir kami membiayai ketua partai sampai ia duduk di Kementerian. Dari pak Menteri inilah, pekerjaan kami kini menginjak angka 12 digit. Lian begitu menikmati, aku juga. Lebih tepatnya aku bahagia karena Lian begitu senang. 

###

Tapi aku tetap belum menemukan apa yang kubutuhkan

Waktu terus berjalan, tinggal 3 jam lagi sebelum pertemuan.  Otakku sudah mulai penat. Rokok hambarku sudah berubah pahit. Coklatku sudah bergelas-gelas, hanya ku minum beberapa teguk. Mungkin harus ku ganti dengan kopi. Aku sudah mulai penat. Aku tak sanggup lagi. Akhirnya aku mulai menulis, sesuatu yang menjadi kebiasaan ketika aku tak mampu menuangkan pikiranku. 

Satu demi satu kata-kata mengalir dari hatiku, dari hati  bukan dari pikiran. Setelah beberapa saat.. akhirnya selesai sudah. Ternyata menulis jauh lebih cepat disbanding menyiapkan kata. Ku pandangi beberapa saat, ku baca beberapa kali, ku edit sana sini. Aku tersenyum pedih, tapi aku puas.

###
Caffebook jam 23.00 
Lian terduduk sendiri, sudah 2 jam ia menunggu, hanya ditemani sebuah surat. Lian masih menunggu Tres. Lian tak tahu jika Tres tak akan datang. Bahkan Lian tak tahu Tres bukan cuma tak datang.

###
Hai Lian..
Aneh rasanya menulis surat padamu. Padahal kita bertemu setiap hari. 
Kita berteman sudah 10 tahun, namun rasanya baru kemarin. Banyak hal yang kita lalui,  tapi selalu saja ada yang tak terungkap. Mungkin kita terlalu asik dengan pekerjaan hingga kita lupa mengenal satu sama lain.
Jangan kau tunjukan surat ini pada istrimu, aku akan malu setengah mati.

Malam ini seharusnya kita bertemu, maaf aku tak datang, maaf tak memberi tau. padahal kita sudah menunggu 1 minggu untuk pertemuan ini. Tenang saja,  aku tak melupakannya. Aku masih ingat tentang permintaanmu. Justru disitulah masalahnya. Aku telah berusaha semampuku,  bahkan melebihi kemampuanku. Aku tak menemukan apa yang kau minta. Masih belum bisa..

Selama ini aku selalu bersemangat mewujudkan mimpi-mimpi kita, atau mimpimu sebetulnya. Bersemangat dengan ide-idemu, menggebu dengan terobosan briliantmu. Aku mendukung semua rencana kita,( maaf rencana-rencanamu). Dan aku sangat menikmati saat-saat itu, hingga aku lupa apa yang sebenarnya ku inginkan. Aku sudah mencarinya. Yakinlah aku sudah berusaha untuk itu.

Setelah lama kupikirkan, akhirnya ku simpulkan, aku hanya ingin seperti ini. Inginku hanya mewujudkan mimpimu, semangat dengan ide-idemu, rasakan gebu terobosan briliantmu. Aku cukup dengan peranku sebagai pendukungmu. Bukan kau yang tergantung dengan ku Lian, tapi aku. Aku begitu ketergantungan sebagai pendukung segala ide-idemu. Aku tak punya permintaan lain. Aku hanya ingin seperti ini.

Kini idemu memintaku dengan keinginan pribadiku, aku tak punya kemampuan itu. Kau yang terbiasa dengan peran ini. Peranku sebagai pendukungmu. 
Demi persahabatan alasanmu. Kata-kata itu begitu mengiang di telingaku. 

Maaf  Lian.. aku sudah berusaha, aku tak mampu. Tapi aku tahu diri. Bukankah Sahabat yang baik adalah yang mengerti keinginan sahabatnya. Aku bukan sahabat yang baik untukmu Lian, aku tak dapat memenuhi keinginanmu. Aku cukup tahu diri. Aku tidak lagi layak menjadi sahabatmu. Maaf atas ketidakmampuanku.

Jakarta - Beredar pesan melalui SMS dan BlackBerry Messenger (BBM) nanti malam pukul 23.00 WIB akan terjadi puncak badai Matahari. Saat peristiwa terjadi, suhu Bumi akan meningkat dan berbahaya jika menggunakan HP. Namun pesan ini hoax alias kabar bohong.

"Bahwa akan ada radiasi dari Matahari yang membahayakan dan bisa merusak perangkat telepon, jadi jangan menelepon malam nanti, itu kabar bohong," kata Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (25/1/2012).

Dia menjelaskan secara umum badai Matahari terjadi pada 23 Januari dan dampaknya dirasakan pada 24 Januari pukul 21-22.00 WIB. Peristiwa hanya berlangsung beberapa jam, setelah itu keadaan kembali normal. Umumnya fenomena alam ini berdampak pada orbit satelit. Namun menurut Djamaluddin sejauh ini belum ada laporan gangguan pada satelit.

"Manusia di Bumi dan perangkat teknologi yang digunakannya aman dari dampak badai Matahari, betapa pun kuatnya. Karena Bumi dilindungi magnetosfer atau lapisan magnet dan terlindungi dari radiasinya karena ada atmosfer," jelas alumnus Universitas Kyoto, Jepang, ini.

Ditambahkan dia, yang cukup berbahaya saat badai matahari terjadi adalah ketika astronot berada di laboratorium antariksa. Maka itu ketika peristiwa itu terjadi, astronot diminta masuk ke ruang yang aman. Badai Matahari juga bisa mengancam penumpang pesawat yang melintasi wilayah kutub, karenanya pesawat lintas kutub dialihkan jalurnya.

"Orang yang menggunakan telepon, penerimaan siaran TV, ATM yang menggunakan satelit tidak terganggu. Yang terganggu adalah terputusnya layanan satelit. Tapi sepertinya kemarin tidak ada laporan," ucap Djamaluddin.

Dijelaskannya, badai Matahari pertama yang tergolong cukup kuat berupa ledakan flare berskala M8-9. Untuk ini ada yang menyebut M8,3 atau M8,7 atau M9. Ledakan terjadi pada 23 Januari 2012 pukul 03.59 UT atau 10.59 WIB. Kelas M tersebut sebenarnya tergolong kelas menengah.

Meski demikian, kelas M ini mendekati kelas ekstrem atau X, sehingga cukup berdampak pada Bumi. Flare berasal dari daerah aktif NOAA 1402 berupa bintik matahari besar di kanan atas piringan Matahari dan tampak sebagai letupan terang.

Djamaluddin menambahkan flare diikuti CME atau Coronal Mass Ejection, yakni lontaran massa dari korona matahari, terutama proton dengan kecepatan tinggi. Kecepatannya mencapai 1.400 km/detik. Lontaran massa ini diperkirakan menjangkau jarak sepanjang Pulau Jawa hanya dalam waktu satu detik. Partikel bermuatan dari Matahari itu tampak seperti hujan salju, yang berarti mengarah ke arah Bumi. Partikel tersebut baru mencapai Indonesia pada 24 Januari malam.
TEMPO.CO , Jakarta:-Penduduk bumi tak terancam bahaya oleh badai matahari yang berpuncak, Selasa 24 Januari 2012 malam. Fenomena badai justru menyajikan pemandangan aurora yang indah di langit malam. Masyarakat bisa menyaksikan cahaya bergoyang ini langsung melalui internet.

Aurora adalah cahaya yang dilepaskan partikel badai matahari saat mencapai kutub bumi. Cahaya yang terlepas ini merupakan salah satu upaya bumi melindungi manusia.

Bagi manusia yang tinggal di sekitar kutub, aurora tampak seperti tirai cahaya berwarna merah, hijau, kuning, biru, dan ungu yang bergoyang ditiup angin. Aurora semakin terang dan intensif ketika badai matahari terjadi. Sayangnya, manusia yang tinggal di khatulistiwa tak bisa menyaksikan aurora ini, kecuali menggunakan tayangan langsung di internet.


Adalah Aurora Sky Stasion, terletak di Pegunungan Abisko, Swedia, menyediakan kamera yang terus mendongak ke langit. Stasiun yang berada di lintang 68 derajat utara ini merupakan salah satu lokasi terdekat ke kutub utara sehingga dipastikan bisa dipakai untuk menyaksikan pertunjukan cahaya berjoget. Hasil rekaman ini disiarkan langsung melalui internet.


Penulis bagi situs UniverseToday.com, Nancy Atkinson, yang turut mengakses layanan ini menyatakan kekagumannya. "Webcam ini menampilkan pemandangan aurora yang mengagumkan dari Swedia," ujar dia.


Kanada yang berada di dekat kutub juga memiliki fasilitas serupa. Dari kawasan Yellowknife, terdapat observatorium online bernama AuroraMAX yang menyiarkan pertunjukan aurora melalui internet sejak tahun 2010.
Situs AuroraMAX bahkan menyediakan berbagai petunjuk untuk memotret aurora. Tentu saja masyarakat Indonesia yang berminat memotret harus melancong ke negara-negara sekitar kutub.